POLISI BERSERAGAM, BERAS BERSUBSIDI, DAN SENYUM DI DESA PANAWUAN
Desa Panawuan di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, biasanya tampak tenang pada siang hari. Namun, Rabu (3/9/2025), suasana sedikit berbeda. Seorang polisi berseragam terlihat sibuk menurunkan karung-karung beras dari kendaraan dinasnya. Ia bukan sedang menindak pelanggaran, melainkan membawa harapan: beras bersubsidi untuk warga desa.
Sosok itu adalah BRIPKA Nanang Kosim, Bhabinkamtibmas Polsek Cilimus. Sejak tengah hari, ia berkeliling dusun demi dusun, menyalurkan beras dari program ketahanan pangan nasional. Aksi kemanusiaannya mencuri perhatian warga dan menjadi pembicaraan hangat di desa.
Dengan kendaraan dinas jenis R4 yang penuh muatan, BRIPKA Nanang berhenti di sejumlah titik strategis seperti balai desa dan pos ronda. Lokasi-lokasi ini dipilih agar mudah dijangkau warga, terutama lansia dan keluarga kurang mampu yang kesulitan akses ke pasar.
Berbeda dari citra aparat yang kerap identik dengan penindakan, kehadiran Nanang justru disambut dengan senyum. Warga datang menghampiri, bukan karena panggilan, melainkan karena kebutuhan dan kepercayaan.
“Harganya murah dan kualitasnya bagus. Saya tidak perlu ke pasar lagi, bisa beli di dekat rumah,” ujar Jumih (65), warga desa yang menerima beras dari tangan Nanang. Bagi Jumih, ini lebih dari sekadar transaksi—ini adalah bentuk perhatian nyata dari aparat negara.
Kegiatan distribusi beras ini bukan semata pembagian logistik. BRIPKA Nanang memanfaatkannya untuk menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat secara santai. Dialog kecil namun bermakna terjadi di sela-sela aktivitas.
“Polisi itu tidak harus hadir saat ada masalah. Lewat kegiatan seperti ini, kami bisa lebih dekat dan tahu apa yang dibutuhkan warga,” kata Nanang. Ucapannya mencerminkan pendekatan baru yang lebih humanis dalam tugas kepolisian.
Program ini terbukti membantu banyak pihak. Lansia seperti Sukesih (75), misalnya, merasa sangat terbantu. “Biasanya saya titip cucu beli beras. Sekarang bisa beli sendiri di balai desa. Lebih mudah dan menyenangkan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Kapolsek Cilimus, AKP Mohamad Faisal, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari transformasi Polri menuju institusi yang Presisi—prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. “Kami ingin hadir sebagai mitra sosial, bukan hanya penegak hukum,” ujarnya.
Menurut Faisal, kegiatan yang digagas BRIPKA Nanang mencerminkan wajah baru Polri yang lebih peduli dan proaktif. Inisiatif semacam ini, lanjutnya, penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Apresiasi datang pula dari Kapolres Kuningan, AKBP Muhammad Ali Akbar. Ia menyebut upaya Nanang sebagai wujud pelayanan publik yang nyata, humanis, dan solutif. “Ini bisa menjadi contoh bagi anggota Polri lainnya, terutama di tingkat desa,” katanya.
Distribusi beras bersubsidi di Panawuan direncanakan menjadi program percontohan di wilayah Kecamatan Cilimus. Melalui pendekatan yang langsung menyentuh masyarakat, Polsek Cilimus ingin mengedepankan pola kerja yang berbasis kebutuhan warga.
Bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan, program ini juga menjadi media untuk membangun hubungan yang lebih erat antara aparat dan masyarakat. Sebuah pendekatan yang sederhana, namun mampu mencairkan sekat antara “penjaga” dan “yang dijaga”.
Langkah BRIPKA Nanang menunjukkan bahwa tugas polisi bisa lebih luas dari sekadar menjaga ketertiban. Ia juga bisa menjadi penggerak sosial yang membawa manfaat konkret bagi warga yang dilayani.
Dari tumpukan karung beras di atas kendaraan dinas, muncul pesan yang kuat: kepedulian bisa menjadi wajah baru pelayanan publik. Dan dari desa kecil seperti Panawuan, perubahan besar bisa bermula—jika dilakukan dengan hati.
Humas Polsek Cilimus Polres Kuningan

